Musik Bermakna di Tengah Arus Industri: Dukungan Wawali Jogja bagi Kiprah Livy & Friends

- Jurnalis

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Yogyakarta —Saikinews.id-Musik bukan sekadar rangkaian nada yang memanjakan telinga. Dalam sejarah peradaban, musik kerap hadir sebagai medium penyampai nilai, ekspresi batin, hingga kritik sosial. Di tengah derasnya arus industri hiburan yang sering mengedepankan popularitas dan profit, kehadiran musik dengan pesan moral dan kultural menjadi semakin relevan.
Komitmen tersebut tampak pada dukungan Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, SE, MM, terhadap kiprah penyanyi Livy Laurens, SS, MACE, MA, bersama kelompok musiknya Livy & Friends. Wawan Harmawan, yang dikenal sebagai pecinta musik, memberikan apresiasi langsung saat Livy dipertemukan dengannya oleh HP Entertainment di Balai Kota Yogyakarta.

Penyanyi Livy Laurens bersama musisi (dari kiri) Sammy Pikanto, Bryan Siahaya, dan Yedia Elshama (Foto : Istimewa)
Penyanyi Livy Laurens bersama musisi (dari kiri) Sammy Pikanto, Bryan Siahaya, dan Yedia Elshama (Foto : Istimewa)

Livy Laurens, penyanyi yang telah menapaki dunia musik sejak bangku sekolah dasar, kini berkolaborasi dengan para musisi lintas generasi, yakni Bryan Siahaya (bas), Sammy Pikanto (keyboard), dan Yediya Elshama (drum). Kolaborasi ini melahirkan suguhan musik yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat pesan kemanusiaan dan kebudayaan.
Relasi antara Wawan Harmawan dan Livy Laurens sejatinya telah terjalin sejak 2020. Saat itu, Wawan yang menjabat Wakil Ketua KADIN DIY bersama Dinas Pariwisata DIY menggagas event pariwisata Jogja Heboh, rangkaian kegiatan besar yang menghidupkan ruang-ruang publik budaya. Pada pembukaan acara di Tebing Breksi yang dihadiri Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Livy dipercaya tampil mengisi panggung utama.

Baca Juga :  "Panggil Aku Ayah" Suguhkan Haru dan Tawa, Visinema Hadirkan Makna Keluarga Lebih dari Sekadar Ikatan Darah

Dukungan Wawan Harmawan berlanjut ketika ia menjabat sebagai Wakil Wali Kota Yogyakarta. Pada 2025, Wawan menyambangi kediaman Livy di Baciro dan memberikan apresiasi atas keterlibatan Livy di label musik JD Records Jakarta. Apresiasi itu juga ditujukan kepada produser Jan Djuhana, tokoh musik nasional yang meraih AMI Award Lifetime Achievement pada akhir 2025.

Tahun yang sama menjadi tonggak penting bagi Livy Laurens. Ia menerima Saptohoedojo Award, penghargaan yang diberikan langsung oleh istri almarhum maestro Saptohoedojo, Bunda Yani. Livy terpilih sebagai salah satu dari tujuh tokoh inspiratif Yogyakarta, dinilai memiliki visi idealistik—menempatkan musik bukan semata sebagai alat mencari nafkah atau popularitas, melainkan sebagai medium nilai.
Dalam setiap pementasan, Livy konsisten mengutamakan lagu-lagu bermuatan pesan positif. Salah satu karyanya, “Karep Krama” ciptaan Dr. Apri Damai yang dirilis JD Records Jakarta, kerap dibawakan dengan nuansa jazz. Lagu berbahasa Jawa ini mengangkat makna pernikahan sakral yang memohon restu orang tua. Karya tersebut mendapat tempat di berbagai panggung, seperti Merapi Jazz (31 Desember 2025) dan Jazz Night Serenity (30 Januari 2026).

HP Entertainment telah mengawal perjalanan Livy Laurens sejak 2016. Penyanyi yang pernah dikenal lewat lagu-lagu soundtrack sinetron televisi nasional ini kemudian banyak mengeksplorasi musik bernuansa kebudayaan. Sebagai penggagas Gerakan Cinta Batik sebagai Mahakarya Indonesia (GCBMI), Livy kerap melantunkan lagu Batik Ngayogyokarto karya Agus Wahyudi Minarko, serta Ati Segara yang diiringi violinis internasional Iskandar Wijaya dan pianis Bagus Mazasupa.

Baca Juga :  "Agen +62": Film Komedi Aksi yang Mengangkat Isu Judi Online dan Sindikat Kriminal

Pengalaman akademik Livy di Program Pascasarjana Kajian Seni Rupa dan Seni Pertunjukan UGM turut membentuk sikap kritisnya terhadap industri musik. Ia menyadari bahwa logika pasar kerap menyingkirkan idealisme dan nilai-nilai luhur. Prinsip “yang besar memakan yang kecil” masih mendominasi industri kreatif. Karena itu, Livy mengidealkan ekosistem musik yang berlandaskan kekeluargaan, toleransi, dan kedamaian.

Pemikiran tersebut sejalan dengan pesan Sosrokartono kepada Bung Karno pada 1932: jangan meninggalkan seni, sebab seni adalah pelunak rasa benci. Bacaan Livy atas karya Dominic Strinati, Popular Culture, semakin menguatkan kesadarannya tentang bahaya budaya populer yang dangkal dan mengabaikan nilai intelektual.
Atas dasar itulah, Livy Laurens mendukung komunitas Jazz Kotabaru di Yogyakarta. Komunitas ini memandang musik sebagai sarana menyemai nilai-nilai luhur, toleransi, dan perdamaian—sebuah sikap budaya yang kini mendapatkan ruang dan dukungan, termasuk dari Wakil Wali Kota Yogyakarta.
Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan, kiprah Livy & Friends menunjukkan bahwa musik tetap dapat menjadi suara nurani budaya, menyentuh rasa, dan menumbuhkan kesadaran kolektif. (Herman)

Penulis : Herman

Editor : Sahrul Andi

Sumber Berita: Liputan

Berita Terkait

“Panggil Aku Ayah” Suguhkan Haru dan Tawa, Visinema Hadirkan Makna Keluarga Lebih dari Sekadar Ikatan Darah
“Agen +62”: Film Komedi Aksi yang Mengangkat Isu Judi Online dan Sindikat Kriminal
Berita ini 1 kali dibaca
Livy Laurens, penyanyi yang telah menapaki dunia musik sejak bangku sekolah dasar, kini berkolaborasi dengan para musisi lintas generasi, yakni Bryan Siahaya (bas), Sammy Pikanto (keyboard), dan Yediya Elshama (drum)

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 15:09 WIB

Musik Bermakna di Tengah Arus Industri: Dukungan Wawali Jogja bagi Kiprah Livy & Friends

Jumat, 4 Juli 2025 - 22:48 WIB

“Panggil Aku Ayah” Suguhkan Haru dan Tawa, Visinema Hadirkan Makna Keluarga Lebih dari Sekadar Ikatan Darah

Rabu, 2 Juli 2025 - 05:29 WIB

“Agen +62”: Film Komedi Aksi yang Mengangkat Isu Judi Online dan Sindikat Kriminal

Berita Terbaru