Yogyakarta, saikinews.id – Sumatera kembali berduka. Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh dalam beberapa pekan terakhir telah menyisakan luka mendalam bagi ribuan keluarga. Bencana tersebut tidak hanya merusak rumah dan infrastruktur, tetapi juga memutus mata pencaharian warga serta memaksa banyak keluarga bertahan dalam kondisi serba terbatas di lokasi pengungsian.
Arus air yang datang tiba-tiba menyapu pemukiman, menghancurkan rumah-rumah warga, dan menghilangkan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun. Anak-anak terpaksa menghentikan aktivitas belajar, sementara para lansia dan kelompok rentan harus berjuang menghadapi kondisi kesehatan yang kian menantang. Di balik lumpur yang menggenang dan puing-puing bangunan, harapan kini bertumpu pada kepedulian dan solidaritas sesama.
Merespons kondisi tersebut, Relawan Yayasan Kiwari menggelar aksi penggalangan dana kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aksi tersebut dilaksanakan pada Kamis, 11 Desember 2025, di sejumlah titik strategis di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satunya di kawasan lampu merah Tempel yang dikenal padat lalu lintas.
Di tengah hiruk pikuk kendaraan yang berlalu-lalang, para relawan tampak berdiri di tepi jalan sambil memegang kardus donasi bertuliskan “Pray for Sumatra”. Spanduk sederhana yang mereka bentangkan menjadi penanda pesan kemanusiaan yang kuat. Langkah para relawan mungkin terlihat sederhana, namun maknanya jauh lebih dalam. Sebuah ajakan kepada masyarakat untuk berhenti sejenak, melihat, dan merasakan penderitaan saudara-saudara sebangsa yang sedang diuji oleh bencana.
Aksi tersebut menarik perhatian para pengguna jalan. Sejumlah pengendara motor dan mobil tampak memperlambat laju kendaraannya, membuka kaca jendela, lalu memasukkan donasi ke dalam kotak yang disodorkan relawan. Tidak sedikit pula yang menyampaikan doa dan dukungan moral, sebagai bentuk empati terhadap korban bencana di Sumatera.
Aksi Nyata Relawan Yayasan Kiwari
Penggalangan dana ini digelar oleh Relawan Yayasan Kiwari sebagai wujud kepedulian sosial terhadap krisis kemanusiaan yang terjadi. Aksi tersebut dilakukan bekerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LazisMu), guna memastikan penyaluran bantuan berjalan secara profesional dan tepat sasaran.
Meski hanya berbekal spanduk dan kotak donasi, wajah penuh kesungguhan para relawan menjadi simbol bahwa kepedulian tidak membutuhkan kemewahan. Yang dibutuhkan adalah niat tulus dan hati yang terbuka untuk membantu sesama.
“Dengan turun ke jalan, kami berupaya mengetuk pintu hati masyarakat Yogyakarta agar bersedia menyisihkan sedikit rezekinya. Setiap rupiah yang terkumpul adalah harapan bagi para korban untuk kembali bangkit dari keterpurukan,” ujar Slamet, koordinator lapangan Relawan Yayasan Kiwari, di sela-sela kegiatan.
Menurut Slamet, aksi penggalangan dana ini tidak hanya berorientasi pada pengumpulan bantuan materi, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran publik akan pentingnya solidaritas sosial. “Kami ingin masyarakat menyadari bahwa bencana di Sumatera bukan hanya persoalan daerah tertentu, tetapi merupakan duka kita bersama sebagai bangsa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar program rutin organisasi, melainkan panggilan nurani. “Kami ingin menggunakan kemampuan komunikasi yang kami miliki untuk menyuarakan penderitaan saudara-saudara kita di Sumatera, sekaligus mengajak lebih banyak pihak untuk ikut berbagi,” tukas Slamet.
Kolaborasi untuk Penyaluran Tepat Sasaran
Kerja sama dengan LazisMu dipilih agar dana yang terhimpun dapat dikelola secara transparan dan disalurkan secara langsung kepada masyarakat terdampak yang paling membutuhkan. Melalui kolaborasi ini, bantuan diharapkan dapat menjangkau wilayah-wilayah terdampak secara cepat dan efektif.
“LazisMu memiliki pengalaman dan jaringan dalam penanganan bencana. Kami ingin memastikan bahwa amanah dari para donatur benar-benar sampai kepada korban dalam bentuk bantuan yang dibutuhkan,” ujar Slamet.
Rencananya, dana yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan darurat korban bencana, seperti bantuan pangan, air bersih, perlengkapan kebersihan, serta kebutuhan dasar lainnya di lokasi pengungsian. Selain itu, bantuan juga akan diarahkan untuk mendukung proses pemulihan pascabencana, terutama bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghasilan.
Potret Kepedulian di Ruang Publik
Bagi para relawan, aksi turun ke jalan ini menjadi bentuk nyata kepedulian sekaligus pengingat bahwa setiap individu memiliki peran dalam membantu sesama. Meski tidak berada langsung di lokasi bencana, masyarakat tetap dapat menjadi bagian dari perjuangan para penyintas untuk bangkit kembali.
Harapan dan Ajakan Solidaritas
Menutup kegiatan penggalangan dana tersebut, Slamet menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Yogyakarta yang telah berpartisipasi dan menunjukkan kepedulian. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Yogyakarta yang telah memberikan donasi dengan tulus. Bantuan Anda, sekecil apa pun, sangat berarti bagi para korban,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus mendoakan para korban agar diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini. “Mari kita terus jaga solidaritas dan kepedulian, tidak hanya saat bencana terjadi, tetapi juga dalam proses pemulihan ke depan. Bersama, kita bisa membantu mereka bangkit kembali,” tutup Slamet penuh harap.
Penulis : Herrmanto
Editor : Sahrul Andi
Sumber Berita: Liputan