Jakarta, Saiki News – Setiap tanggal 17 Juli, Indonesia memperingati Hari Integrasi Timor Timur, sebuah tonggak sejarah saat wilayah bekas koloni Portugis itu secara resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1976.
Penetapan ini bermula dari dinamika geopolitik dan konflik internal yang terjadi di Timor Timur pada pertengahan tahun 1970-an, yang akhirnya memicu intervensi militer Indonesia melalui Operasi Seroja, sebuah operasi besar yang turut melibatkan peran strategis Amerika Serikat.
—
Awal Mula Konflik dan Ketegangan Politik
Pada tahun 1975, saat Portugal mengalami gejolak revolusi domestik dan kehilangan kendali atas wilayah koloninya, Timor Timur mengalami kekosongan kekuasaan yang memunculkan tiga faksi politik besar:
1. UDT (Uniao Democratica Timorense) yang ingin mempertahankan status sebagai koloni Portugal,
2. Fretilin (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente) yang mendesak kemerdekaan penuh, dan
3. Apodeti (Associacao Popular Democratica de Timor) yang menginginkan integrasi dengan Indonesia.
Konflik antara UDT dan Fretilin berkembang menjadi perang saudara berdarah. Ribuan warga sipil melarikan diri ke wilayah perbatasan Indonesia. Situasi ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia, yang saat itu dipimpin oleh Presiden Soeharto.
—
Kekhawatiran Komunisme dan Intervensi Militer
Kekhawatiran terbesar Indonesia adalah potensi bangkitnya pengaruh komunisme di Timor Timur—ideologi yang kala itu sedang meluas di kawasan Asia Tenggara. Untuk mencegah hal ini, Presiden Soeharto melakukan diplomasi tingkat tinggi dengan Presiden AS Gerald Ford dan Menlu AS Henry Kissinger di Jakarta.
Pertemuan ini menghasilkan lampu hijau bagi Indonesia untuk melakukan intervensi militer. Maka diluncurkan Operasi Seroja pada akhir 1975, operasi invasi terbesar pasca kemerdekaan Indonesia. Amerika Serikat disebut menyuplai hingga 90 persen persenjataan yang digunakan oleh militer Indonesia dalam operasi tersebut.
—
Integrasi ke Indonesia dan Referendum 1999
Setelah berlangsungnya operasi militer dan pendudukan, pada 17 Juli 1976, Pemerintah Indonesia secara resmi menyatakan Timor Timur sebagai provinsi ke-27. Namun integrasi ini tidak sepenuhnya diterima oleh komunitas internasional dan terus memicu konflik bersenjata serta gerakan perlawanan dari sejumlah kelompok lokal.
Baru setelah runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998, jalan demokrasi dibuka. Pemerintah Indonesia mengizinkan pelaksanaan referendum pada 30 Agustus 1999 di bawah pengawasan PBB. Hasilnya, mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk memisahkan diri dari Indonesia.
Setelah proses transisi dan pengawasan internasional, akhirnya pada 20 Mei 2002, lahirlah negara baru bernama Republik Demokratik Timor Leste, dan hingga kini berdiri sebagai negara berdaulat yang bertetangga langsung dengan Indonesia.
—
Refleksi Sejarah
Hari Integrasi Timor Timur menjadi momen penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Meski akhirnya berpisah, hubungan diplomatik antara Indonesia dan Timor Leste saat ini berjalan harmonis, dibangun atas dasar persaudaraan, saling menghormati, dan semangat masa depan bersama di kawasan Asia Tenggara.
Penulis : Sahrul Andi
Editor : Dumari
Sumber Berita: Saiki News